A. Pendahuluan
Bismillahirrohmaanirrohiim. . Alhamdulillaah. Asholaatu Wassalaamu alaa Rosuulillah.
B. Tujuan Pembelajaran
Setelah menelaah pemaparan materi tentang macam-macam Penyimpangan Semu Hukum Mendel, diharapkan Ananda dapat :
1. Menentukan rasio pada peristiwa Polimeri dengan tepat
2. Menentukan rasio pada peristiwa Kriptomeri dengan tepat
3. Menentukan rasio pada peristiwa Epistasis hipostasis dengan tepat
4. Menentukan rasio pada peristiwa Komplementer dengan tepat
5. Menentykan rasio pada peristiwa interaksi alel dengan tepat
6. Menyelesaikan persilangan berbagai macam penyimpangan semu hukum Mendel.
C. Uraian Materi
Seperti Yang sudah ananda pelajari, bahwa dalam menerapkan teori persilangan terdapat Hukum Mendel yang digunakan, yaitu Hukum Mendel I atau Hukum Segregasi dan Hukum Mendel II atau Hukum Assortasi, sehingga, pada persilangan Dominansi penuh pada persilangan minohibrida akan selalu diperoleh Rasio Fenotip Dominan : Resesif = 3 :1. Sedangkan pada persilangan dihibrida akan selalu memiliki rasio 9 : 3 : 3 : 1.
Tetapi pada kenyataannya, rasio hasil persilangan ternyata tidak demikian adanya, terdapat beberapa jenis penyimpangan yang telah di dapati oleh para peneliti, diantaranya :Polimeri, Kriptomeri, Epistasis hipostasis, komplementer, dan Interaksi Alel.
Namun walaupun demikian, ternyata rasio hasil persilangan tidak terlalu jauh dari hasil penelitian Mendel. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari paparan di bawah ini
1. Polimeri
Polimeri merupakan bentuk interaksi gen yang bersifat kumulatif (saling menambah). Pada polimeri ini terdapat banyak gen bukan alel tetapi mempengaruhi karakter/sifat yang sama.
Polimeri memiliki ciri, yaitu makin banyak gen dominan, maka sifat karakternya makin kuat.
Contoh:
Persilangan antara gandum berkulit merah dengan gandum berkulit putih.
Sumber: https://www.materiedukasi.com |
Rasio Fenotipe F2 merah : putih = 15 : 1
Dari contoh di atas diketahui bahwa gen M1 dan M2 bukan alel, tetapi sama-sama berpengaruh terhadap warna merah gandum. Semakin banyak gen dominan, maka semakin merah warna gandum.
2. Kriptomeri (9 : 3 : 4)
Kriptomeri merupakan sifat gen dominan yang tersembungi, jika gen dominan tersebut berdiri sendiri. Namun jika gen dominan tersebut berinteraksi dengan gen dominan lainnya, akan muncul sifat gen dominan yang sebelumnya tersembunyi. Kriptomeri memiliki ciri, yaitu ada karakter baru muncul bila ada 2 gen dominan bukan alel berada bersama.
Contoh
Persilangan Linaria maroccana
Sumber: https://www.materiedukasi.com |
Rasio fenotipe F2 ungu : merah : putih = 9 : 3 : 4
3. Epistatis-Hipostatis (12 : 3 : 1)
Epistatis-Hipostatis merupakan suatu peristiwa dimana suatu gen dominan menutupi pengaruh gen dominan lain yang bukan alelenya. Gen yang menutupi disebut epistasis dan yang ditutupi disebut hipostasis.
Contoh
Persilangan antara jagung berkulit hitam dengan jagung berkulit kuning
Sumber: https://www.materiedukasi.com |
Rasio fenotipe F2 hitam : kuning : putih : = 12 : 3 : 1
4. Komplementer (9 : 7)
Komplementer dinamakan juga epistatis gen resesif rangkap, karena jika salah satu gen bersifat homozigot reseseif, pemunculan suatu karakter oleh gen lain menjadi tidak sempurna atau terhalang.
Komplementer merupakan bentuk kerja sama dua gen dominan yang saling melengkapi untuk memunculkan suatu karakter.
Contoh
Perkawinan antara dua orang yang sama-sama bisu tuli
Sumber: http://bio.cekrisna.com/ |
Rasio fenotipe F2 normal : bisu tuli = 9 : 7
5. Interaksi Alel
Interaksi alel merupakan suatu peristiwa dimana muncul suatu karakter akibat interaksi antar gen dominan maupun antar gen resesif.
Contoh
Mengenai pial/jengger pada ayam
Sumber: https://www.materiedukasi.com |
Rasio fenotipe F2, walnut : rose : pea : single = 9 : 3 : 3 : 1
Pada contoh di atas ada 2 karakter baru muncul, yaitu
- Walnut : muncul karena interaksi 2 gen dominan
- Single : muncul karena interaksi 2 gen resesif
https://www.ruangguru.com/ |
4. Latihan Mandiri
b. Mengisi Soal latihan berarti sekaligus mengisi kehadiran.
c. Limit waktu sampai kamis, 18 Nopember 2021 pukul 11.55 PM